POLITIK MENGALIRI KANTIN DI SAMPING KAMPUS
Aku mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di tepi Jakarta, sekarang aku memasuki tahun ke dua dari empat empat tahun waktu kuliah normal, lebih tepatnya menginjak semester empat.Aku mempnuyuai teman kelas seorang wanita yang nanti akan menjadi sahabatku.pada suatu pagi saya bertemu dengannya,dalam pertemuan yang tak lebih dari kedipan mata tersebut saya bisa melihat senyum simpul yang ditujukan kepadaku.dengan berjalanya waktu aku dan dia semakin dekat,hingga suatu saat dalam pertemuan makan siang di sebuah kantin di samping kampus saya memberikan penawaran kepadanya untuk menjadi sahabat.
Hari pun berlalu,dan bulan pun berganti,tak serasa kami telah berjalan cukup lama sebagai sahabat,banyak waktu yang kami lewati bersama baik dalam duka, luka, air mata, dan juga bahagia. Seiring berjalannya hal tersbut sebagai anak muda terkuaklah benih-benih cinta.
Namun bukan diriku kepada dirinya dan juga bukan dirinya kepada diriku,karena kami merupakan sahabat dalam esensi yang sesungguhnya..Dia mencintai seorang pria yang merupakan salah seorang anggota partai dari sebuah organisasi kampus.yang juga merupakan senior kami di jurusan yang sama,dan kemudia jadian dengan pria tersebut.
Hari-hari berganti,seiring bergantinya hari saya melihat perubahan sikap yag terjadi pada sahabat saya kepada saya.dari dulunya dia sering ikut ngumpul bersama saya dan teman-teman sekarang dia lebih cendrung protektif terhadapa saya dan teman-teman,hal itu tidak hanya di tongkrongan,namun juga di kelas.hal yang paling membuat saya sedih adalah ketika saya hubungi sahabat saya tersebut sama sekali tidak ada jawaban ataupun balasan pesan elektronik yang saya kirimkan ke ponselnya.
Saya mulai bertanya-tanya kenapa sahabat saya pergi tanpa saya tahu jawabannya.dorongan dari rasa penasaran ini,saya mulai mencari jawaban dari pertanyaan tadi.dalam pencarian jawaban tersebut saya mulai mendapatkan titik terang tentang perpolitikan kampus.hasil dari pencarian saya adalah perbedaan dari ideologi atau lebih tepatnya organisasi bisa membuat orang mengganggpa sesuatu itu salah,karena penanaman nilai yag cendrung subjectif.saya baru sadar bahwa organisasi telah memisahkan saya dan sahabat saya,dan saya tau tidak ada yang bisa di salahkan dalam kasus ini.semua berjalan dengan semestinya dalam sudut pandang orang yang menjalani.namun dalam subjektivitas saya merasa kehilangan akan sahabat say...
Semester awal saya harus kehilangan sahabat saya,waktupun terus berganti,sehingga tanpa saya sadari saya sudah semester 3.Semester ganjil biasanya menjadi semster pergantia dai presiden BEM di kampus saya.Tanpa saya sadari ternyata saya merupakan salah satu calon yang akan maju dalam pesta demokrasi di kampus saya,sebagi seorang wakil presiden di jurusan saya.
Dikampus saya ada beberapa organ yang bersaing dalam pesta demokrasi tersebut dan ternyata yang menjadi calon dari salah satu organ di luar organ saya adalah pacar dari sahabat saya tersbut.Hal ini menambah semangat saya dalam memenangkan persaingan ini.sebagai pembuktian saya bahwa saya lebih baik dari dia,secara implisit juga merupakan nilai bargain saya kepada ccowok dari sahabat saya tersebut yang telah membuat saya dan sahabatsaya tidak berhubungan lagi,dan ini bukan karena cemburu namun karena perbedaan organ.
Pemilu merupakan pesta demokrasi yang belum bisa disebut demokrasi,dalam pemilu kampus organ cowok dari sahabat saya adalah organ yang notabenenya yang terbesar di kampus,sedangkan saya bisa di bilang organ yang notabenenya tidak besar dan tidak juga kecil.namun satu hal dalam team politik saya mempunyai temen-teman yang solid dalam mendukung saya..dengan jerih payah yang saya lakukan dalam pembuktian diri saya..akhirnya saya memenangkan pemilahan tersbut dan menjadi wakil presiden di jurusan saya.
Namun yang membuat saya geran adalah setelah cowok yang menajadi oposisi saya di pemilu tersbut kalah ternyata sahabat saya tadi ditinggal olehnya..sehingga saya menilai sahabat saya hanya sebagi alat politik untuk memuluskan jalanya ke puncak kekusaan.saya bilang politik itu kejam namun yang paling kejam itu orangnya bukan politknya.jadi politk yang kejam dan tidak bermoral adalah politk yang dimainkan oleh orang yang tidak bermoral juga.
Saya masih membuka pintu untuk sahabat saya tadi,namun ternyata yang tinggal hanya sebuah harapan. Saya hanya bisa menunggu dia untuk bisa saling bersama lagi dan tertawa bersama lagi. Namun dia lebih menutup diri hari ini. Saya tidak tau alasannya apa, mungkin karena rasa bersalah, rasa malu, atau sebuah syndrome dari psikologi yang tertekan. Sahabat ku aku masih disini,menunggumu dalam sebuah penantian yang tidak berujung...Aku masih menanti kehadiranmu sahabatku di kantin samping kampus ...........
Kamis, 28 Mei 2009
Langganan:
Postingan (Atom)